AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati

 


Pontianak, Tuguborneo.id 27 September 2026 — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Teknologi yang mampu memberikan informasi dan menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam hitungan detik tersebut menawarkan banyak kemudahan. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat persoalan yang perlu dijawab secara serius: apakah AI akan menjadi alat yang membantu manusia berpikir, atau justru membuat manusia semakin malas berpikir?


Pertanyaan tersebut menjadi perhatian dalam Diskusi Bijak Ber-AI Part 1 yang diselenggarakan oleh Pengurus PMII Komisariat IAIN Pontianak pada 27 September 2026 di 1/2 Kopi Tiam Sepakat. Mengangkat tema “Membentuk Generasi Gen Z yang Kritis dan Bijak di Era Artificial Intelligence”, diskusi menghadirkan Sahabati Senior Maria Ulfa, S.Pd., M.Pd. sebagai pemateri dan dihadiri Sahabat Zainal selaku Ketua PMII Komisariat IAIN Pontianak serta Formatur Ketua Cabang Terpilih Sahabat Haris Hamdani.


Sahabat Zainal menegaskan bahwa perkembangan AI harus diikuti dengan penguatan daya kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pengguna yang menerima seluruh informasi dari teknologi tanpa melakukan pemeriksaan dan proses berpikir.


“AI boleh kita gunakan untuk membantu pekerjaan, tetapi jangan sampai kita menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Mahasiswa harus tetap membaca, berdiskusi, menguji informasi, dan membangun argumentasinya sendiri.”


Menurut Zainal, tantangan mahasiswa di era AI bukan lagi sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mahasiswa tetap memiliki nalar, keberanian mempertanyakan informasi, dan kemampuan membaca realitas sosial.


Ia menilai PMII memiliki peran untuk menjaga tradisi tersebut melalui ruang-ruang diskusi dan kaderisasi. Perubahan teknologi, menurutnya, harus dijawab dengan peningkatan kualitas intelektual kader, bukan dengan sikap pasif terhadap perkembangan zaman.


“PMII harus menjadi ruang bagi kader untuk membaca perubahan zaman. Kita tidak boleh gagap terhadap teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kehilangan tradisi intelektual hanya karena teknologi semakin mudah digunakan.”


Sementara itu, Sahabati Senior Maria Ulfa, S.Pd., M.Pd., menyoroti pentingnya kemampuan generasi Z dalam menggunakan AI secara sadar dan bertanggung jawab. Menurutnya, AI merupakan alat bantu yang dapat memberikan banyak manfaat, tetapi setiap informasi yang dihasilkan tetap harus diperiksa oleh manusia.


“AI itu alat bantu, bukan pengganti akal manusia. Ketika AI memberikan jawaban, jangan langsung percaya. Kita harus bertanya, memeriksa sumbernya, membandingkan informasi, dan memahami konteksnya.”


Maria Ulfa juga mengingatkan bahwa kemudahan teknologi dapat menjadi persoalan apabila membuat manusia kehilangan proses belajar. Menurutnya, kemampuan berpikir tidak terbentuk hanya dari mendapatkan jawaban, tetapi juga melalui proses bertanya, mencari, mengalami kesalahan, melakukan evaluasi, dan berdiskusi.


“Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat mendapatkan jawaban tetapi tidak memahami persoalan. Kecerdasan bukan hanya soal seberapa cepat kita menemukan jawaban, tetapi juga seberapa mampu kita mengajukan pertanyaan yang tepat.”


Karena itu, ia mendorong generasi Z untuk menjadikan AI sebagai partner belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir. AI dapat digunakan untuk membuka perspektif dan membantu pekerjaan, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia.


Pandangan Zainal dan Maria Ulfa bertemu pada satu pesan utama: kemajuan teknologi harus berjalan bersama kemajuan cara berpikir manusia.


Di era ketika informasi semakin mudah diperoleh, kemampuan untuk memverifikasi, menganalisis, mempertanyakan, dan mempertanggungjawabkan informasi justru semakin penting.


Melalui Diskusi Bijak Ber-AI Part 1, PMII Komisariat IAIN Pontianak tidak sekadar membicarakan kecanggihan teknologi, tetapi membuka ruang untuk membahas posisi manusia di tengah perubahan tersebut.


Sebab, persoalan AI bukan hanya tentang apa yang bisa dilakukan teknologi, tetapi juga tentang apa yang harus dilakukan manusia dengan teknologi tersebut.


AI boleh semakin canggih. Tetapi nalar kritis generasi muda tidak boleh mati.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati
  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati
  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati
  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati
  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati
  • AI Boleh Canggih, Tapi Nalar Kritis Gen Z Jangan Sampai Mati

Posting Komentar