Dosen Universitas PGRI Pontianak dan Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Mendorong Timang Bubu Semata Sebagai WBTB
Kepala desa Semata, Munjiri menyambut baik upaya pengusulan timang bubu Semata sebagai warisan budaya takbenda di kabupaten Sambas. Agus Dediansyah M.Pd yang merupakan dosen Pendidikan Sejarah UPGRI Pontianak menjelaskan bahwa timang bubu sebagai warisan budaya masyarakat Semata sudah ada sejak tahun 1960an, hingga hari ini masih di lestarikan oleh Pak Rajani dari Desa Semata yang merupakan pawang dari permainan tersebut. Penting sekiranya menjadikan warisan yang sudah di wariskan turun temurun untuk di lestarikan memngingat timang bubu memiliki nilai sejarah bagi masyarakat. Dr. Basuki Wibowo M.Pd kepala LPPM UPGRI Pontianak memberi penegasan bahwa upaya pelestarian tradisi lokal yang ada dalam masyarakat harus berkelanjutan dan di dukung oleh generasi muda. Oleh karena itu mahasiswa UPGRI Pontianak yang hadir dalam acara wajib melakukan inovasi pewarisan budaya berbasis IT melalui jalur pendidikan dan media sosial.
Dr. Sunandar M.Hum, menjelaskan bahwa makna yang ada di syair ataupun lagu timang bubu memiliki pesan moral bahkan menceritakan kehidupan masa lampau. Timang bubu sebagai kebudayaan merupakan jati diri kita yang memiliki nilai moral, luhur dan hasil cipta rasa leluhur. Mulyadi merupakan generasi muda di Semata yang melestarikan budaya timang bubu Semata yang di wariskan dari keluarganya. Saat ini menjadi peradi dan penyanyi dalam acara timang bubu Semate. Pentingnya pelestarian timang bubu di tegaskan oleh Herwan S.P. M.Pd Sekertaris DPC MABM kecamatan yang telah melakukan penelitian timang bubu sebagai warisan budaya lokal.
Penetapan timang bubu Semata sebagai WBTB akan menjadikan budaya masyarakat ini tetap ada dan eksis di kalangan masyarakat Sambas. Timang bubu sebagai identitas diri masyarakat Semata Kecamatan Tangaran Kabupaten Sambas merupakan representasi dari masyarakat Semata sebagai masyarakat agraris.

Posting Komentar