Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja

 


PONTIANAK — Tuguborneo.id Menghadapi derasnya arus informasi digital, remaja membutuhkan bekal literasi pendidikan seksual dan pemahaman keagamaan agar mampu menyaring berbagai informasi yang mereka temui di media sosial. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Rianawati, M.Ag., Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pontianak, dalam Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum, Selasa (29/9/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan IAIN Pontianak tersebut mengangkat tema “Urgensi Pendidikan Perempuan dalam Memperkuat Ketahanan Keluarga Muslim di Kalimantan Barat.” Kegiatan dihadiri mahasiswa IAIN Pontianak dari berbagai fakultas serta sejumlah organisasi dan elemen masyarakat, di antaranya PW Muslimat Kalimantan Barat dan PW ICMI Kalimantan Barat.


Dalam kegiatan tersebut, Prof. Rianawati menyampaikan materi bertajuk “Literasi Pendidikan Seksual dan Pemahaman Keagamaan Remaja dalam Menghadapi Isu LGBT di Era Digital.”


Menurut Rianawati, perkembangan teknologi membuat remaja semakin mudah mengakses informasi mengenai berbagai persoalan sosial dan seksualitas. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga dan lembaga pendidikan karena tidak semua informasi yang diterima remaja dapat dipahami secara tepat atau sesuai dengan tahap perkembangan mereka.


“Remaja hari ini berada dalam ruang digital yang sangat terbuka. Mereka bisa mendapatkan berbagai informasi hanya dalam hitungan detik. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya larangan, tetapi literasi dan pendampingan agar mereka mampu memahami, menyaring, dan menyikapi informasi secara bertanggung jawab.”


Mengapa Literasi Seksual Penting?


Rianawati menegaskan bahwa pendidikan seksual perlu diberikan secara edukatif dan sesuai dengan usia serta perkembangan remaja. Pendidikan tersebut tidak sebatas membicarakan persoalan seksual, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap diri, batasan dalam pergaulan, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga diri.


“Pendidikan seksual harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan tentang diri dan tanggung jawab. Remaja perlu mengetahui batasan, memahami risiko, dan memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya ketika berhadapan dengan berbagai situasi, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.”


Menurutnya, minimnya pengetahuan dan komunikasi dapat membuat remaja mencari jawaban sendiri melalui internet dan media sosial. Karena itu, keluarga perlu menjadi ruang pertama yang memberikan pendidikan sekaligus pendampingan.


Pemahaman Agama sebagai Bekal


Selain literasi pendidikan seksual, Rianawati menekankan pentingnya pemahaman keagamaan dalam membentuk cara remaja mengambil keputusan dan merespons berbagai fenomena yang mereka temui di ruang digital.


Pemahaman agama, menurutnya, tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk pengetahuan, tetapi harus mampu menjadi nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


“Pemahaman keagamaan harus menjadi bekal dalam kehidupan remaja. Ketika mereka menghadapi berbagai informasi di media sosial, mereka membutuhkan kemampuan berpikir sekaligus landasan nilai untuk menentukan bagaimana informasi tersebut harus disikapi.”


Siapa yang Berperan?


Rianawati menilai pendidikan remaja tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau perguruan tinggi. Keluarga, orang tua, pendidik, dan lingkungan sosial memiliki peran dalam memberikan pendampingan kepada generasi muda.


Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar mengenai nilai, perilaku, komunikasi, dan tanggung jawab. Karena itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan era digital.


“Anak dan remaja membutuhkan keluarga sebagai tempat yang aman untuk bertanya. Ketika komunikasi dalam keluarga terbuka, anak tidak harus mencari seluruh jawaban dari internet. Di sinilah peran orang tua dan pendidikan keluarga menjadi sangat penting.”


Bagaimana Membangun Ketahanan Keluarga?


Persoalan tersebut kemudian berkaitan erat dengan tema besar Borneo Heritage Forum mengenai pendidikan perempuan dan ketahanan keluarga Muslim.


Rianawati menegaskan bahwa pendidikan perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas keluarga. Pendidikan yang baik dapat memperkuat kapasitas perempuan dalam mendampingi anak, membangun komunikasi keluarga, serta menghadapi perubahan sosial dan teknologi.


“Pendidikan perempuan bukan hanya tentang peningkatan kapasitas individu. Ada dampak yang lebih luas terhadap keluarga dan generasi. Perempuan yang memiliki pengetahuan dan literasi yang baik akan memiliki bekal untuk mendampingi anak menghadapi tantangan zamannya.”


Menurut Rianawati, ketahanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pendidikan, komunikasi, keteladanan, dan pemahaman nilai dalam keluarga.


Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mendiskusikan tantangan pendidikan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.


Melalui materi yang disampaikan Prof. Rianawati, peserta diajak melihat bahwa menghadapi tantangan digital tidak cukup dengan membatasi akses remaja terhadap teknologi. Yang tidak kalah penting adalah membangun kemampuan remaja untuk memahami informasi, berpikir kritis, menjaga diri, serta memiliki landasan nilai dan keagamaan dalam menggunakannya.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja
  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja
  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja
  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja
  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja
  • Hadapi Isu LGBT di Era Digital, Prof. Rianawati Tekankan Pentingnya Literasi Seksual dan Pemahaman Agama Remaja

Posting Komentar