Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat

 

Pontianak, Tuguborneo.id — Seminar Nasional Moderasi Beragama Lanjutan yang diselenggarakan di Aula Sultan Syarif Abdurahman, Kantor Wali Kota Pontianak, pada Rabu, 16 September 2026, menghadirkan berbagai pemikiran mendalam mengenai pentingnya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang plural. Mengusung tema "Penguatan Moderasi Beragama dan Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal", salah satu sorotan utama datang dari pakar pendidikan dan tokoh agama Kalimantan Barat, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.

Dalam pemaparannya, Prof. Wajidi menekankan bahwa keberagaman suku, etnis, budaya, dan agama di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, adalah sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang harus dikelola dengan bijak. Ia menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap generasi masa kini yang menghadapi dinamika pemahaman keagamaan yang terus berkembang di tengah arus globalisasi.

"Merawat pemahaman keagamaan generasi hari ini sangat penting agar tidak terjadi pergeseran pemahaman yang berpotensi memicu ketidakharmonisan, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas," ujar Prof. Wajidi di hadapan para peserta seminar yang terdiri atas akademisi, tokoh agama, guru, dan mahasiswa.

Lebih lanjut, Prof. Wajidi memaparkan tiga pilar utama dalam penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di daerah:

1. Peran Kebijakan Pemerintah: Pemerintah memiliki tanggung jawab strategis dalam membuat kebijakan yang mendukung pelestarian tradisi, budaya, dan kearifan lokal. Tradisi dan budaya lokal yang dirawat dengan baik oleh negara akan menjadi benteng perekat sosial yang kuat di tengah masyarakat multikultural.

2. Kesadaran Kolektif dan Peran Tokoh Agama: Penguatan moderasi tidak akan berjalan optimal tanpa kesadaran kolektif yang dimotori oleh para tokoh agama, pemuka masyarakat, serta dukungan kelembagaan seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan organisasi kemasyarakatan. Sinergi ini dinilai sangat efektif dalam merawat kerukunan akar rumput.

3. Pondasi Rohani sebagai Akar Permasalahan: Menyukseskan kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai juga harus berakar pada perbaikan kualitas rohani dan akhlak individu. Menurutnya, kesehatan rohani seseorang akan menentukan bagaimana ia bersikap toleran, menghargai perbedaan, dan menebarkan kedamaian dalam kehidupan sosial.

Seminar nasional ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Pj Wali Kota Pontianak, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, serta narasumber nasional lainnya seperti Prof. Dr. H. Imam Suprayogo dan Prof. H. M. Mas'ud Sa'id, M.M., Ph.D. Melalui forum ini, diharapkan kolaborasi lintas sektor di Pontianak dan Kalimantan Barat semakin kokoh dalam mempertahankan citra daerah sebagai miniatur Indonesia yang rukun, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat
  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat
  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat
  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat
  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat
  • Profesor Wajidi Sayadi Tekankan Pentingnya Kebijakan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Merawat Moderasi Beragama di Kalimantan Barat

Posting Komentar